Meneropong Orang Mentawai Lewat Bebetei Uma

 Sehingga banyak sekali masyarakat Indonesia tidak tahu satu sama lain. Di tengah langkanya kajian antropologi terhadap suku bangsa di Indonesia, Yayasan LKiS dan Penerbitan Gading bekerjasama dengan ICSD (Indonesia Center for Sustainable Development) serta Keluarga Mahasiswa Antropologi UGM mengadakan diskusi buku “Bebetei Uma: Kebangkitan Orang-Orang Mentawai”, Rabu, 27 Maret 2013 di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Bambang Rudito, penulis buku sekaligus pembicara diskusi mengatakan bahwa orang Mentawai pada dasarnya sangat menghargai alam tempat dimana dia hidup. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, mereka sangat memperhatikan kelestarian alam. “Orang Mentawai di sana makan sagu selama empat bulan, pisang selama empat bulan, dan keladi selama empat bulan. Siklus ini membuat jenis tanaman tertentu tidak cepat habis”, terang Doktor di bidang Antropologi ini.


Dilihat dari keyakinannya, orang Mentawai percaya pada roh nenek moyang. Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh adalah keyakinan di balik kebiasaan mereka merokok, baik laki-laki maupun perempuan. “Asap rokok dipercaya bisa memanggil roh untuk tetap bersama dan mengikuti orang Mentawai. Roh yang ikut ini dipercaya oleh orang mentawai bisa membawa keberuntungan dan kesehatan”, lanjut Bambang.

Kepercayaan pada roh inilah yang tidak berubah sama sekali. Bahkan ketika budaya mereka mulai berubah seiring dengan arus globalisasi. “Sekarang orang Mentawai banyak memakai celana, baju dan kaos selayaknya orang lain. Akan tetapi orang Mentawai sesungguhnya masih memegang erat norma mereka. Bagi mereka yang penting bukan penampakan, tetapi hatinya”,terangnyalagi.

Keyakinan orang Mentawai kepada roh membuat mereka yang pergi ke luar daerah pada akhirnya kembali lagi ke Mentawai. Kembali melakukan rutinitas sebagaimana orang Mentawai di kampung. Mereka pulang dan kembali memakai cawan, kembali berburu babi ke dalam hutan, dan kembali merokok. Bambang melihat ada magnet yang begitu kuat di tanah mentawai yang menarik orang dari suku ini untuk kembali ke tanahnya. Dia melihat Bebetei Uma sebagai ritual sekaligus indikator betapa kuatnya tarikan magnet ini.

“Ada yang menyatukan mereka yaitu Bebetei Uma, dalam tradisi ini semua orang Mentawai berkumpul, dari berbagai agama. Kalau ada yang tidak bisa pulang, maka arwahnya dipanggil hadir seperti meraga sukma”, kata peneliti senior ICS Dini.

Panelis diskusi, Maskota Delfi berpendapat bahwa Mentawai sekarang sudah tidak tunggal, ada beberapa marga yang masih memegang teguh tradisi dan ada beberapa yang banyak menerima perubahan. Akan tetapi memang, Bebetei Uma masih merupakan ritual bersama masyarakat Mentawai. Semuanya ikut serta dalam Bebetei Uma, orang Mentawai siapa pun, tanpa pandang apapun.

Selain membincang Bebetei Uma, dalam dikusi ini pun muncul banyak hal seputar Mentawai, terutama saat narasumber dipancing dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Hal-hal tersebut seperti prosesi menikah, hukum yang berlaku, pertentangan dengan negara,dan konsep kosmologi orang mentawai.

Membincangkan buku, mengingatkan kembali semua orang di ruangan itu pada ucapan Koentjoroningrat (Guru Besar Antropologi pertama di Indonesia) yang disitir oleh Bambang bahwa semua suku bangsa di Indonesia sebenarnya bisa diketahui dengan baik jika saja satu mahasiswa antropologi berani mengambil satu suku saja dalam penelitiannya. Dengan demikian, buku Bebetei Uma ini selain memberikan banyak sekali sumbangan bagi horison pengetahuan tentang bangsa juga memacu semangat mahasiswa untuk terus mengkaji Indonesia dan suku di dalamnya secara antropologis.

 

 

 

 

BT Content Slider

Training ICSD 2014

29-30 Maret 2017

21 May 2013

Tema        : ENGAGING STAKEHOLDER : A STRATEGY FOR STAKEHOLDERS ENGAGEMENT Waktu      : 29 - 30 Maret 2017 Tempat    : Hotel Ambhara, Jalan Iskandarsyah Raya No. 1, Jakarta Selatan.

Environmental Leadership

Copyright © 2017 ICSD. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.