Menyiasati Produksi Pangan

tetapi di beberapa daerah Indonesia belum terlihat tanda-tanda itu. Malah ancaman kekeringan semakin terlihat. 

Kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat mengancam ketersediaan pangan nasional. Ketersediaan air sudah semakin menipis di beberapa wilayah di Indonesia. Kelangkaan air yang menjurus pada kekeringan di sejumlah daerah ditunjukkan oleh defi sitnya persediaan air pada neraca air tanah di tiap-tiap daerah. Secara keseluruhan lahan tadah hujan di Indonesia mencapai luasan 8,747 juta hektare (Suryatna et al, 1979), 500 ribu ha berada di Pulau Jawa.

Air tanah menjadi faktor penting bagi keberlangsungan hidup setiap makhluk hidup di muka bumi ini. 

Kemarau panjang dapat menyebabkan kekeringan yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas pangan nasional. Hal itu terjadi karena tanaman puso atau mati akibat kekeringan. Di sisi lain, produksi pangan akan menurun atau berkurang kuali tas hasilnya. Biji yang dihasilkan tanaman tidak optimal sebab proses pembentukan biji terhambat aliran nutrisi dari akar karena kekurangan air. Penurunan produksi biji-bijian dalam skala makro akan berpengaruh pada perekonomian secara luas sehingga berakibat pada penurunan pendapatan petani, sehingga harus menggerus modal yang dipakai menanam untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Daerah yang mengalami kekeringan akan mengalami kesulitan secara ekonomi.

Tingkat kemiskinan bertambah karena berkurangnya sumber-sumber pendapatan. Penyerapan tenaga kerja juga menurun akibat minimnya tawaran pekerjaan di sektor pertanian. Daerah yang mengalami kekeringan akan mengalami kesulitan secara ekonomi .Tingkat kemiskinan bertambah karena berkurangnya sumber-sumber pendapatan. Penye rapan tenaga kerja juga menurun akibat Dalam dimensi yang lebih luas, penurunan produksi pangan akan menambah tekanan pada perekonomian nasional. Diperlukan upaya ekstra pemerintah untuk menahan laju kenaikan harga bahan-bahan pangan. Dengan komponen infl asi pada bahan pangan yang mencapai seperempat dari total perhitungan infl asi maka kenaikan harga pangan akan sangat besar pengaruhnya terhadap infl asi. Untuk meredamnya, pemerintah harus mengeluarkan cadangan pangan, dan itu berarti biaya. Penurunan produksi juga akan menstimulasi impor bahan pangan. Impor yang besar kembali akan menekan neraca pembayaran.

Keuangan negara akan terkuras untuk membiayai impor bahan pangan.

Kekeringan dapat terjadi karena sebab alamiah, perubahan iklim secara global ataupun pengaruh pemanasan global. Dampak siklon tropis El Nino dapat menyebabkan bergesernya musim penghujan di wilayah-wilayah Indonesia. Perubahan iklim saat ini menjadi lebih sulit diprediksi, sehingga prakiraan musim tanam sering kali tidak tepat atau meleset. Di luar kondisi alamiah, ada persoalan dalam pengelolaan sumber daya air. Hanya 34% dari total air hujan mampu diserap dan menjadi cadangan di musim kemarau. Selebihnya mengalir dan kembali ke laut tanpa dimanfaatkan oleh manusia. Buruknya pengelolaan air ini disebabkan oleh menurunnya daya dukung lingkungan di 

daerah hulu. Penampungan air Presiden terpilih Joko Widodo dan wakil presiden terpilih Jusuf Kalla telah mencanangkan pengembangan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Jokowi menyampaikan akan membangun lebih banyak bendungan dan waduk untuk pertanian. Pernyataan ini telah memberikan angin segar akan adanya perubahan signifikan dalam pengelolaan pertanian yang selama ini cenderung terabaikan.

Sebelum pemerintah memutuskan pembangunan bendunganbendungan baru, harus dilihat dulu kondisi bendungan, waduk, serta embung-embung yang telah ada.Demikian pula dengan jaringan irigasinya. Data menunjukkan 52% dari seluruh jaringan irigasi yang ada mengalami kerusakan mulai yang ringan, sedang, hingga berat.Kerusakan ini terjadi karena minimnya pemeliharaan atau jaringan irigasi yang tersedia rusak karena konversi lahan, dari lahan pertanian menjadi penggunaan lain.

Rehabilitasi sarana pengairan seharusnya menjadi prioritas utama.Tanah dan kotoran yang menjadi sedimen di dalam waduk harus diangkat. Hal itu untuk menambah kapasitas daya tampung penyimpan air.

Sebagian besar waduk dan bendungan di Indonesia telah mengalami pendangkalan dan sedimentasi yang parah. Kapasitasnya sebagai sumber air untuk irigasi, a ir minum, dan pengen dali banjir telah menurun. Jumlah air yang dapat ditampung mengecil dan tidak dapat diandalkan. Umur teknisnya pun menurun akibat kerusakan pada bagian-bagian bendung an yang selama ini tidak terawat. Embungembung yang disediakan untuk menampung air hujan juga mengalami hal yang sama.

Tanpa rehabilitasi dan perbaikan yang serius, embung-embung ini akan mengecil. Fungsinya sebagai penampung air akan beralih menjadi lahan pertanian. Sementara lahan-lahan di daerah hilir akan semakin sulit mendapatkan air karena persediaan air terbatas.

Demikian pula dengan jaringan irigasi, yang harus dibenahi kembali. Kerusakan secara massif jaringan irigasi ini terjadi tidak hanya di Jawa, tetapi juga di daerah-daerah pertanian di luar Jawa. Jaringan irigasi ini tidak mendapat perhatian yang cukup selama ini. Perluasan lahan beririgasi ini niscaya akan melipatgandakan produksi pertanian. Saat penanaman terbaik ialah di musim kemarau dengan syarat air tercukupi. Padi, jagung, ataupun kedelai akan menghasilkan produksi yang meningkat manakala terdapat persediaan air yang cukup. Pertanaman di musim kemarau akan mengoptimalkan proses fotosintesis karena sinar matahari yang cukup.

Kedaulatan pangan nasional tidak akan terwujud tanpa adanya perbaik an kualitas sarana dan prasarana pertanian, dan itu harus dilakukan segera sebelum kemarau panjang datang kembali.

 

 

Sumber:

Media Indonesia, Rabu 24 September 2014

BT Content Slider

Training ICSD 2014

29-30 Maret 2017

21 May 2013

Tema        : ENGAGING STAKEHOLDER : A STRATEGY FOR STAKEHOLDERS ENGAGEMENT Waktu      : 29 - 30 Maret 2017 Tempat    : Hotel Ambhara, Jalan Iskandarsyah Raya No. 1, Jakarta Selatan.

Environmental Leadership

Copyright © 2019 ICSD. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.